Menakar Buku Perpustakaan Kelamin

Akhir-akhir ini aku sering memfoto buku dan membagikan sedikit isinya di media sosial biasanya di WhatsApp dan Instagram. Meski sempat terpikirkan mungkinkan dengan melakukan hal ini aku termasuk orang yang “Biblionarsisis” yang dalam novel Perpustakaan Kelamin adalah sebutan bagi penggila buku yang hobi memamerkan koleksinya (baca:sering update) lalu kemudian orang menganggapku lebay dan so soan millennial.

Aku yang nakal dan sering memperhatikan gerak-gerik orang lain (anggap saja miniriset) kadang merasa bingung dengan orang yang posting Buku tapi tidak menyertakan secuil saja isinya ~ya, alasan lain adalah aku sendiri penasaran maksud dari bukunya itu apa dan bagaimana. Contohnya begini, ada sebagian orang yang posting cover bukunya tanpa memberi tambahan kata kalau buku ini isinya Bla Bla bla akan menimbulkan banyak tanya isinya seperti apa (memang cinta pada pandangan pertama   berlaku juga tidak hanya pada manusia melainkan pada bahan baru yang akan kita baca) bukankan kita sepakat dengan jargon “dont judge the book by the cover“, rasa penasaran  menimbulkan kecurigaan mungkinkan ia menemukan buku bagus dan terkesima  lalu di potret saja, mungkin juga saking takjubnya terhadap isi buku yang dibaca ia tak mampu berkata-kata hingga hanya bisa larut dalam sebuah perenungan, beberapa kemungkinan bisa terjadi dan aku hanya bisa berasumsi. ~klasiknya akuuu

Sulit memang menjabarkan isi buku pada sebuah caption, alih-alih berbagi ilmu tapi kesannya menjadi flat sebab generasi sekarang lebih suka pada sesuatu yang berbau multimedia. Artinya, sebagus apapun tulisannya, orang lebih tertarik pada gambar dan suara sebab anak zaman sekarang gampang bosan dan terkesan kuno untuk sekedar baca tulisan panjang di gadgetnya. Baiklah begini saja, apa yang aku lakukan selama ini dengan buku dan caption-caption so hits-nya adalah semata-mata caraku menyampaikan maksud bahwa memiliki buku tentu dengan hasil perjuangan sendiri adalah kenikmatan yang luar biasa karena dengannya kita akan sungguh-sungguh memahami dan mengkhatamkan lembar demi lembarnya, bahagia bukan main kalau itu sudah  terlewati apalagi mampu menuangkannya dalam puluhan paragraf kata. ~percayalah.

Karena membaca adalah bagian dari hidup dan hidup juga seringkali tak selamanya mulus, kadang mood kadang badmood, kadang semangat baca kadang juga biasa saja. Saranku, istirahatlah tapi jangan menyerah lalu kemudian lupa baca sampai halaman berapa, intinya gini buku apapun yang sedang kamu garap kamu pegang kamu baca meski malas dan terbata-bata, bereskan! (Biar pinter dan kalaupun sesat, sesatnya ga nanggung).

Mengutip perkataan Fernando Baez dalam karyanya yang berjudul Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa, saat sedang membaca entah mengapa kepala yang tadinya pusing dan rumit dihantui banyak masalah bisa hilang karena bacaan, meski sedang sendiri tak pernah merasa sepi, meski perut lapar belum terisi dengan membaca, perut akan terasa kenyang dan rasa lapar pun pergi. Mungkinkan mereka yang sering dijuluki si individualis dan si kutu buku sudah lama merasakan nikmat semacam ini sehingga tak perlu lagi kongkow kesana kemari. Ah entahlah

Tentang buku, izinkan aku yang tak pandai berpuisi dan hanya bisa berimajinasi untuk menutup coretanku dengan ini:

Jika kau bingung harus membaca apa, bacalah apa yang kau suka dan membuatmu jatuh cinta

Membacalah, karena dengannya kau akan tersenyum bahagia

Membacalah, karena dengannya kau akan punya banyak saudara

Membacalah, karena dengannya kau akan puas berkelana keliling dunia

Membacalah, karena dengannya kau akan dekat dengan sang pemilik cakrawala

Membacalah, karna kau tak lagi purba

Post Author: pramesh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *