Hari Ibu, Antara Hegemoni dan Ironi

h90 tahun lalu, 30 Organisasi Perempuan dari 12 Kota berkumpul di Yogyakarta untuk menyelenggarakan konferensi tentang pendidikan, kesehatan serta Hak-hak Perempuan.

Setiap tahunnya kemudian mereka menyelenggarakannya kembali dengan grand tema yang berbeda-beda. Dan pembahasannya sudah melampaui masyarakat yang saat itu masih berstatus masyarakat jajahan. Ditengah Nusantara yang sedang bergejolak, Perempuan-perempuan kita dengan tangguhnya sudah memikirkan kemajuan untuk kaumnya.

Namun masuk ke abad 21, itu digantikan dengan hegemoni persembahan kepada ibu-ibu dengan memuji luar biasa kerja domestik mereka disertai membeli barang-barang berlabel diskon hari ibu. Perjuangan akan kemajuan digantikan dengan konsumsi barang dengan skala besar-besaran.

Itu bagus, memberikan sebuah nafas segar bagi ibu-ibu kita yang sudah terlampau lelah sekali menghidupi kita. Namun juga tetap perlu kita perhatikan, karena nyatanya dihari ini sangat sedikit status WA (yang saya baca) yang juga membahas tentang isu perempuan global dalam merayakan Hari Ibu ini.

Padahal kita memerlukan banyak suara untuk kemajuan Perempuan. Apalagi, ditahun ini sederet kasus Perempuan seperti Kasus Tuti Tursilawaty, Baiq Nuril, Agni, Frisca (pemberitaan dari tirto.id) mencuat. Ditambah lagi belum disahkannya RUU-PKS yang sangat strategis dalam mencegah dan mengobati kekerasan seksual.

Masih terlalu banyak kasus dan tema yang harus kita bahas agar menjadi kesadaran kolektif masyarakat kita yang mayoritas masih menganggap feminitas adalah sikap kelas 2. Dan itu tidak disertai dengan kewajiban menjadi feminis (Jika pengertian kalian tentang Feminis adalah orang-orang yang galak dan menuntut kesamaan).

Karena untuk membela Perempuan, kalian hanya perlu menjadi manusia dan objektif. Mengutip pernyataan Salwatore Quasimodo bahwa berdiam diri dan tidak peduli memiliki satu nama; pengkhianatan.

Saya sangat menyadari betul bahwa ucapan Hari Ibu kepada Ibu-ibu kita juga tidak bisa dilewatkan. Namun membicarakan kemajuan Perempuan yang menjadi latar belakang dari lahirnya Hari Ibu juga harusnya tidak boleh dilewatkan. Kita tidak bisa berjuang sendiri dan membiarkan perempuan-perempuan yang kelelahan berjuang sendiri.

Mari tidak berdiam diri, Mari membahas tentang Perempuan di hari Ibu, Mari bangun kesadaran kolektif, Mari bergandengan tangan untuk berjuang melawan ketidak adilan.

Selamat Hari Ibu..

Post Author: pramesh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *