Mengenal Lebih Dekat Marguerite Donnadieun

Perempuan yang nama aslinya Marguerite Donnadieu ini lahir pada tahun 1914 di Gian-Dinh, Vietnam. Merupakan salah seorang tokoh pengarang Prancis Abad ke 20 yang paling produktif, tak hanya dikenal sebagai pengarang karya-karya fiksi tetapi juga sering terlibat dalam kegiatan sinematografi, drama dan jurnalistik. Ayahnya meninggal saat ia berusia tujuh tahun, Duras memiliki dua orang saudara laki-laki bernama Pierre dan Paul.

 

Paul merupakan sosok yang lemah lembut, tampan, gemar membantu ibunya serta  hobinya adalah mengotak-ngatik mobil (otomotif). Namun sayang, saudaranya yang lain bernama Pierre punya perangai buruk dan tak jarang sering mencuri uang ibunya sendiri. Ibu Duras berprofesi sebagai guru disebuah sekolah negeri di Vietnam, dari situlah ibunya membesarkan ketiga anaknya dengan kepahitan dan penderitaan hidup yang bertubi-tubi. Parahnya lagi ibunya pernah punya masalah besar terkait spekulasi tanah yang menyebabkan keluarganya dililit hutang dimana-mana.

 

Duras sendiri adalah anak yang cerdas, tak heran jika saat usianya delapan belas tahun ia dikirim ibunya ke Paris untuk melanjutkan studi di bidang hukum, matematika dan ilmu sosial-politik.  Di kota itu ternyata ia tak bekerja sesuai dengan apa yang diajarkan di fakultasnya ia lebih senang menekuni dunia seni khususnya bidang teater dan sinematografi. Duras juga pernah terlibat dalam kegiatan politik dengan masuk sebagai anggota Partai Komunis Prancis, namun beberapa waktu berikutnya ia memutuskan untuk mundur karena merasa gagasan pikirannya tak sama dengan gagasan partai.

 

Meski demikian, karirnya tidak padam begitu saja tak jarang apartemennya sering digunakan sebagai tempat diskusi oleh kalangan intelek idealis dan non-kompromis salah satu contohnya adalah dengan persahabatan yang dijaliknya dengan Mitterand (mantan Presiden Prancis tahun 1981-1995). Kisah asmara Duras juga mengalami lika-liku tercatat ia pernah dua kali menikah dan berujung pada perceraian namun  ia tetap menjalin komunikasi baik dengan para mantan suaminya yang juga sekaligus para penggemar karya-karya Duras. Hingga usianya tua ia pun masih produktif berkarya meski sering bolak balik rumah rehabilitasi karena kecanduan alkohol.

 

Karier Durasi dimulai sebagai pengarang pada tahun 1941 dengan roman pertamanya berjudul La Camille Teneran, tapi sayang lagi-lagi nasib baik belum memihak padanya, karya pertama tersebut tidak sukses. Tiga tahun berikutnya ia menerbitkan karya lagi berjudul Les Impudents dari karya keduanya ini ia menggunakan nama samaran Marguerite Duras, yang diambilnya dari tanah kelahiran ayahnya di Prancis Selatan. Tahun-tahun berikutnya menjadi tahun emas bagi Duras sebab puluhan karya mengalir deras bagai sungai yang diguyur hujan.

 

Karya-karyanya yang berupa roman adalah La Vie Tranquille (1944), L’Espece Humaine (1947), Un Barrage Contre le  Pacifique (1950), Le Marin de Gibraltar (1952), Le Square (1955), Moderator Cantabile (1958), Le Ravissement de Lol V.Stein (1964), Le Vice Consul (1967), L’Amour (1971), L’Amant (1985), La Douler (1985), L’Amant de La Chine du Nord (1991). Setelah itu banyak pula karya-karyanya yang dibuat teater, drama serta film. Yang paling fenomenal dari karya Duras adalah dua novel pararel berjudul Un Barrage Contre Le Pacifique yang berlatarkan pedalaman Vietnam dan L’Amant berlatarkam kota besar di Vietnam, kedua karya tersebut disajikan dengan apik dan realis karena menggambarkan pengalaman hidupnya pribadi.

 

Sebagai pengarang Prancis abad XX ia tetap bersikukuh untuk tetap berada dalam penulisan konvensional. Karya-karya awalnya masih dipengaruhi oleh unsur realisme sentimental dan roman puitis hingga dikemudian hari saat usia nya menjelang matang dirinya mulai menunjukkan pengaruh filsafat eksistensialisme Sartre dan menunjukkan ciri-ciri Nouveau roman. Duras juga mengaku bahwa karyanya tidak terpengaruh oleh karya dan inspirasi dari pengarang lain, melainkan pengalaman hidupnyalah yang ia tuangkan dalam karyanya.  Tema-tema yang sering muncul dari hasil kreatif Duras biasanya adalah pertemuan antara seorang kekasih, dilema kesepian, kehausan akan cinta, kemiskinan dan penderitaan serta ketidaksinambungan komunikasi.

 

Dalam dunia visual, Duras juga sering berperan ganda disetiap garapan baik itu menjadi penulis skenario, memainkan peran juga menyutradarainya meski ia mengakui lebih menaruh harapan pada seni teater daripada film. Kehebatan Duras juga ditunjukan dalam dunia jurnalistik, tahun 1956 menjadi pijakan awal  bagi Duras dengan banyaknya tawaran para redaktur untuk bergabung bersamanya. Duras tentu memilih yang terbaik diantara banyak tawaran tersebut dan dipilihnyalah France Observater dan Constellations karena sama-sama terkenal dan bernomor besar.

 

Para kritikus koran mengakui bahwa Duras mampu menciptakan warna baru dengan menulis artikel-artikel aktual dan realistis. Sehingga mampu menggugah para pembaca dan membuka paradigma baru tentang berbagai peristiwa yang terjadi khususnya tentang isu-isu sosial yang menggambarkan tentang penindasan dan ketidakadilan. Melalui semangatnya yang selalu bergelora, Duras menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang jurnalis yang besar dengan selalu berada bersama kalangan bawah yang termarjinalkan dan menjauhkan diri dari buaian para penguasa. Menurutnya, untuk mengerti dunia sekitar cukup hanya dengan membuka mata, keluar dari rumah dan berada dijalan untuk dapat melihat dan mendengar dengan baik.

 

Duras juga berhasil menggerakkan opini publik dengan ditulisnya  sebuah artikel yang menggambarkan dampak psikologis akibat perang di Aljazair, dimana seorang pemuda penjual Bunga ditangkap oleh polisi karena tidak mempunyai surat resmi, isu gender juga ia tulis dengan terbitnya sebuah berita pelecehan yang dilakukan oleh orang-orang Prancis terhadap gadis Prancis yang berjalan dengan pemuda Aljazair.

 

Post Author: pramesh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *